STT PEMENANG
Minggu, 29 Maret 2015
Selasa, 10 Maret 2015
MEMAKNAI CATUR BRATE PENYEPIAN
Sepengetahuan saya, perayaan hari raya Nyepi merupakan local
genus (kearifan local) khususnya bagi umat Hindu di Indonesia. Mungkin saja di
Negeri lain dapat kita temukan perayaan dengan esensi yang serupa, namun dengan
tata cara yang berbeda. Karenanya sebagai umat Hindu kita patut merasa bangga
karena kita umat Hindu telah mengambil bagian dalam upaya menjaga dan
melestarikan nilai-nilai luhur yang telah ada di negeri ini sejak dahulu. Umat
Hindu di negeri ini tidak melakukan adopsi secara mentah budaya-budaya dari
luar seperti yang saat ini terjadi di negeri ini, Klo boleh saya katakan, “We
Love our own culture”, sadar atau tidak sadar kita telah melakukannya.
Mengapa saya
memahami bahwa perayaan Nyepi merupakan warisan bagi negeri ini yang mengandung
nilai-nilai luhur. Hal ini tercermin dari Catur Brata penyepian yang senantiasa
menjadi pedoman/penuntun bagi umat Hindu dalam melaksanakan prosesi Nyepi.
Catur brata penyepian meliputi 4 hal, yaitu 1) Tidak menyalakan api, 2) Tidak
melakukan karya, 3) Tidak ke luar rumah, 4) Tidak
bersenang-senang/berfoya-foya.
Pada saat Nyepi,
keadaan menjadi sepi, sunyi, hening. Dalam hal semantic, hal ini memiliki
kesesuaian dengan Nyepi itu sendiri yang berarti sepi. Nyepi berarti sepi,
sunyi, hening, menyepi, membuat jadi sepi, hening. Lalu apakah yang dibuat
menjadi sepi atau hening tersebut???? Pada saat Nyepi, makrokosmos (alam) dan
mikrokosmos (person) dibuat menjadi sepi. Di sini terlihat adanya kesinambungan
antara alam dan diri kita masing-masing. Dengan keheningan tersebut kita
sebagai pribadi terbantu untuk melakukan introspeksi (pensucian diri).
Begitupun dengan alam yang akan terbantu dengan adanya kesempatan untuk melakukan
pemulihan atas segala beban yang harus disangga selama setahun penuh akibat
aktivitas manusia. Ini adalah bentuk nyata kepedulian umat Hindu terhadap
lingkungan. Jika sekarang dunia sedang konsen untuk mengatasi permasalahan
lingkungan, maka sejak dulu leluhur kita telah menerapkan nilai-nilai penting
dalam pelestarian lingkungan. “We must proud of that” .
Marilah kita kembali
dalam pokok pembahasan. Salah satu bagian dari pelaksanaan Nyepi adalah
pelaksanaan Catur Brata penyepian. Berikut akan saya sampaikan pemahaman saya
mengenai bagian-bagian dari catur brata penyepian tersebut.
TIDAK MENYALAKAN API
Api yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan api, semisal api itu sendiri, listrik, cahaya, dan lain-lain. Saya
sependapat dengan hal tersebut. Juga dalam kesempatan kali ini saya ingin
memaknai api sebagai salah satu unsur alam. Api memiliki sifat ekspansif. Jika
kita pernah menonton film avatar maka di film itu dapat kita lihat bahwa bangsa
api merupakan bangsa yang ekspansionis.hahahaha…..,dalam contoh nyata dapat
kita lihat bila api dibiarkan menyala maka dia akan membakar benda-benda di
sekelilingnya dan akan semakin membesar hingga semakin sulit untuk
dikendalikan. Begitulah sifat api, jika kecil dia adalah sahabat namun jika
kita tidak pintar-pintar mengendalikan maka akan merugikan diri kita sendiri.
Demikian pula halnya dalam tataran spiritual, api dalam diri pun harus kita
kendalikan. Saya rasa hal ini juga merupakan sisi lain dari amati gni itu
sendiri, yaitu berusaha untuk mengendalikan api dalam diri.
TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN
(KARYA)
Saya cenderung memahami ‘amati karya’ sebagai suatu ajakan bagi
kita untuk tidak melakukan pekerjaan atau karya yang terkait dengan pekerjaan
material (untuk mendapatkan materi). Lalu pekerjaan seperti apa yang dapat kita
lakukan??karena pada dasarnya kita tidak pernah berhenti bekerja kecuali
meninggal. Bahkan dalam tidur pun jantung kita bekerja, dan sesungguhnya bumi
ini selalu berputar, alam selalu berekspansi (berkembang). Lalu dapatkah kita
berhenti melakukan pekerjaan??Jika memang tidak, pekerjaan seperti apakah yang
harus kita tinggalkan pada hari Nyepi ini?? Pada saat nyepi kita sejenak
menghentikan kegiatan/pekerjaan dalam sangkut pautnya dengan alam material.
Pesan utama Nyepi adalah perenungan suci/introspeksi diri, jadi layaknya orang
yang sedang menggali, pada saat Nyepi kita tinggalkan segala pekerjaan di
luaran diri dan mulai memasuki diri kita sendiri. Segala daya dan upaya kita
arahkan untuk penggalian diri.
TIDAK BEPERGIAN KE LUAR RUMAH
Tidak bepergian ke
luar rumah di sini berarti tidak melihat ke luar diri, sekali lagi kita diajak
untuk melihat ke dalam diri (introspeksi ke dalam diri). Mungkin saja dalam
setahun ini kita terlalu sibuk untuk melakukan pencarian terhadap segala
sesuatu yang ada di luaran sana, padahal sesungguhnya apa yang kita cari sudah
ada dalam diri kita, menunggu untuk ditemukan.
TIDAK BERFOYA-FOYA
Maksud dari tidak
berfoya-foya di sini adalah tidak melakukan kegiatan yang berlebihan dan tidak
perlu. Atau dapat juga diartikan dengan menahan diri. Menahan diri beragam
bentuknya. Adakalanya dalam suatu perdebatan kita mampu untuk mendebat lawan
bicara kita, tapi kita memilih diam dan menyimak perkataan orang tersebut, ini
adalah pengendalian diri. Adakalanya kita disakiti dan sebenarnya mampu untuk
membalas namun kita memilih untuk diam dan memaafkan, inilah pengendalian diri.
Adakalanya kita mampu untuk makan sebanyak-banyaknya namun kita memilih untuk
makan secukupnya, ini juga pengendalian diri. Bagi seseorang yang
banyak berbicara ada baiknya untuk menahan diri untuk tidak
berbicara berlebihan (berbicara seperlunya saja), bagi orang yang
suka makan berlebihan, ada baiknya untuk belajar makan
seperlunya saja, dan lain sebagainya.
Dapatkah kita
membayangkan bahwa di balik tradisi seperti Nyepi terkandung makna-makna yang
begitu luhur dan masih relevan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan
baik untuk pribadi dan bangsa ini secara keseluruhan, jika kita dengan
sungguh-sungguh menjalankannya. Melalui perayaanNyepi kita
diingatkan/disadarkan dan diharapkan untuk mengaplikasikan esensi-esensi luhur
ini dalam kehidupan kita sehari-hari.
Nyepi mengandung
makna pengendalian terhadap nafsu, mengasingkan diri dari keramaian dan meniti
jalan ke dalam diri untuk menemukan sumber pelita di dalam diri kita
masing-masing dan pada akhirnya kita akan kembali lagi dalam keramaian dan
hiruk-pikuknya dunia sebagai manusia yang baru, manusia dengan kesadaran baru.
Lain yang dipahami
lain pula yang dilakukan, memang demikianlah penyakit kita, termasuk juga
penyakit saya.
Karenanya Nyepi diperingati berulangkali setiap tahun untuk mengingatkan kita akan hal ini. Dengan harapan suatu saat,
melalui penyepian diri yang kita lakukan akan lahir manusia-manusia dengan kesadaran baru. Mungkin dalam Nyepi tahun ini kita belum berhasil dan demmikianpula dalam nyepi-nyepi di tahun berikutnya. Namun dengan niatan yang tulus mudah-mudahan kelak suatu saat kita semua dapat berhasil menjadikan Nyepi dengan catur brata penyepiannya sebagai momentum bagi kita untuk menemukan jati diri yang sejati dalam diri ini.
Karenanya Nyepi diperingati berulangkali setiap tahun untuk mengingatkan kita akan hal ini. Dengan harapan suatu saat,
melalui penyepian diri yang kita lakukan akan lahir manusia-manusia dengan kesadaran baru. Mungkin dalam Nyepi tahun ini kita belum berhasil dan demmikianpula dalam nyepi-nyepi di tahun berikutnya. Namun dengan niatan yang tulus mudah-mudahan kelak suatu saat kita semua dapat berhasil menjadikan Nyepi dengan catur brata penyepiannya sebagai momentum bagi kita untuk menemukan jati diri yang sejati dalam diri ini.
Bagi saya merayakan
Nyepi bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, seperti yang saya jelaskan
sebelumnya. Apa artinya menahan lapar dan haus lalu padakeesokan harinya dan
hari-hari berikutnya kita kembali pada kebiasaan kita. Apa artinya membuat
keadaan menjadi sangat hening bagi orang luar yang melihat, namun sesungguhnya
di dalam diri kita masih penuh dengan keramaian. Apakah semua itu tidak
berarti????
Ada seseorang yang
mengukurkeberhasilan pelaksanaan Nyepi dengan keberhasilannya melakukan puasa
menahan lapar
dan haus selama 24 jam penuh, namun bagi saya bukan hal itu yang menjadi ukuran. Ada juga orang yang mengukur keberhasilan pelaksanaan Nyepi dengan menjaga keheningan dan membuat keadaan menjadi sepi selama 24 jam, namun bagi saya bukan hal itu ukurannya. Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak berguna, namun saya mencoba untuk mengatakan bahwa hal-hal tersebut bukanlah hal yang dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pelaksanaanNyepi.Lalu apa ukuran yang dapat dijadikan sebagai indicator berhasil tidaknya pelaksanaan Nyepi. Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Yang saya rasakan setiap tahun ukuran keberhasilan itu akan berubah. Dulu ukuran keberhasilan kita adalah menahanlapar dan haus, namun hal itu bukanlah yang utama sekarang. Itu semua kembali kepada masing-masing individu, karena hanya dirikitalah yang mengetahui sejauh mana pencapaian kita dalam melakukan pencarian jati diri ini.
dan haus selama 24 jam penuh, namun bagi saya bukan hal itu yang menjadi ukuran. Ada juga orang yang mengukur keberhasilan pelaksanaan Nyepi dengan menjaga keheningan dan membuat keadaan menjadi sepi selama 24 jam, namun bagi saya bukan hal itu ukurannya. Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak berguna, namun saya mencoba untuk mengatakan bahwa hal-hal tersebut bukanlah hal yang dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pelaksanaanNyepi.Lalu apa ukuran yang dapat dijadikan sebagai indicator berhasil tidaknya pelaksanaan Nyepi. Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Yang saya rasakan setiap tahun ukuran keberhasilan itu akan berubah. Dulu ukuran keberhasilan kita adalah menahanlapar dan haus, namun hal itu bukanlah yang utama sekarang. Itu semua kembali kepada masing-masing individu, karena hanya dirikitalah yang mengetahui sejauh mana pencapaian kita dalam melakukan pencarian jati diri ini.
Nyepi adalah momen
untuk mengingatkan kepada kita untuk menemukan kebenaran. Sumber pelita dalam
kegelapan yang tidak akan dapat dipadamkan dengan apapun. Dan Nyepi memberikan
jalannya kepada kita untuk dapat menemukan sumber pelita tersebut, yaitu dengan
memulai perjalanan ke dalam diri, bukan ke luar. Kita akan menghabiskan terlalu
banyak energi untuk hal yang sia-sia jika disibukkan dalam pencarian Tuhan di
luar diri. Yang
pertama, kita tidak perlu mencari Tuhan, karena sebenarnya Tuhan itu berada di mana-mana. Laluuntuk apa kita sibuk mencari-carinya. Yang terjadi adalah kitatidak menyadari keberadaannya. Yang kedua, atman yang merupakan percikan sinar suci Tuhan telah berada dalam masing-masing diri setiap insane. Selama ini kita lupa untuk berkenalan dengannya, untuk menyadari eksistensinya. Kita terlalu sibuk ke luar tanpa menyadari sesungguhnya Dia berada dekat sekali dengankita. Demikianlah yang saya pahami saat ini. Namun saya pun masih dalam perjalanan yang sama dengan kebanyakan orang. Sayabelum dapat menemukan sang pelita yang sejati itu, tapi saya berharap mudah-mudahan kelak saya dan kitamasing-masing dapat menemukannya. Dengan Nyepi kita menyadarinya dan menguatkan niat, kemudian yang ada setelah ini adalah berjalanlah sesuai dengan niatan itu, berjalanlah sesuai dengan apa yang kita pahami. Semoga kita semua senantiasa beradadalam keadaan damai atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, begitulah saya menyebutnya.
pertama, kita tidak perlu mencari Tuhan, karena sebenarnya Tuhan itu berada di mana-mana. Laluuntuk apa kita sibuk mencari-carinya. Yang terjadi adalah kitatidak menyadari keberadaannya. Yang kedua, atman yang merupakan percikan sinar suci Tuhan telah berada dalam masing-masing diri setiap insane. Selama ini kita lupa untuk berkenalan dengannya, untuk menyadari eksistensinya. Kita terlalu sibuk ke luar tanpa menyadari sesungguhnya Dia berada dekat sekali dengankita. Demikianlah yang saya pahami saat ini. Namun saya pun masih dalam perjalanan yang sama dengan kebanyakan orang. Sayabelum dapat menemukan sang pelita yang sejati itu, tapi saya berharap mudah-mudahan kelak saya dan kitamasing-masing dapat menemukannya. Dengan Nyepi kita menyadarinya dan menguatkan niat, kemudian yang ada setelah ini adalah berjalanlah sesuai dengan niatan itu, berjalanlah sesuai dengan apa yang kita pahami. Semoga kita semua senantiasa beradadalam keadaan damai atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, begitulah saya menyebutnya.
(sanbudinatha,
21 maret 2008)
GENERASI MUDA HINDU DALAM MENYIKAPI ERA GLOBALISASI
Masa muda adalah masa-masa untuk menuntut ilmu. Dalam ajaran agama Hindu dikenal empat tahapan yang harus dilalui dalam kehidupan ini, yaitu catur asrama. Salah satunya adalah tahapan dimana kita menuntut ilmu dalam rangka
mencari kebenaran/dharma (Brahmacari). Kebanyakan dari kita yang merupakan generasi muda masih berada dalam tahapan ini. Jika pada zaman lampau, seorang anak pada usia tertentumeninggalkan keluarganya untuk menuntut ilmu di bawah bimbingan seorang brahmana, maka pada zaman sekarang ini seorang anak meninggalkan keluarganya dalam rangka menuntut ilmu di bawah bimbingan sebuah institusi yang kita sebut Universitas/Perguruan tinggi. Nilai/esensi yang terkandung di dalamnya masih sama dan relevan hingga zaman ini, hanya saja cara dan medianya yang berubah.
Adalah suatu keniscayaan bahwa kelak generasi mudalah yang nantinya akan menerima tongkat estafet dari generasisebelumnya dalam rangka menjamin kelangsungan pelaksanaan dharma dalam kehidupan ini. Baik dalam ruang lingkup keluarga, dimana generasi muda merupakan suputra yang diharapkan akan menjamin eksistensi keluarganya dalam kehidupan ini. Begitupun dalam ruang lingkup yang lebih besar lagi yaitu dalam suatu Negara, dimana generasi mudanya diharapkan untuk dapat meneruskan nilai-nilai luhur bangsanya (budaya) agar tetap eksis dalam rangka menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan dharma.
Hendaknya kita sebagai generasi muda menyadari peran ini sehingga negeri yang kita cintai ini dapat melewati masa-masa sulit dan akan kembali menjadi sebuah bangsa yang besar dan dihargai oleh bangsa-bangsa lainnya. Seorang bijak pernah mengatakan bahwasanya sebuah bangsa yang besar adalah bangsa dimana generasi mudanya mampu untuk menghargai budaya bangsanya. Saya rasa kata-kata mutiara tersebut masihlah sangat relevan bagi bangsa ini untuk dapat mengatasi permasalahan bangsa yang sedang dihadapi hingga saat ini.
Hal yang sama pernah disampaikan olehSwami Wiwekananda sebagai berikut “Punyailah keyakinan bahwa kalian semuanya dilahirkan untuk berbuat hal-hal yang besar. Hai anak-anak muda janganlah karena mendengar suara anak-anak anjjing menyalak kalian menjadi takut, tidak, tidak boleh menjadi penakut sekalipun mendengar dentuman guntur di atas langit, tetaplah berdiri tegak dan berusaha terus. Negaramu meminta pahlawan-pahlawan sejati. Jadilah pahlawan-pahlawan nan gagah perkasa. Berdiri teguh laksana batu karang yang kokoh. Kebenaran selalu menang.
Apa yang negara India butuhkan adalah tenaga listrik untuk menggerakkan semangat yang segar di dalam urat-urat saluran darah nasional.”.
Vivekananda mencoba memberitahukan kepada kita untuk dapat mengatasi rasa takut. Karena rasa takut merupakan sumber dari sebagian besar kekacauan yang terjadi baik di dalam diri maupun di luar diri. Hal yang sama juga disampaikan melalui Bhagawadgita. Dalam Bhagawadgita diceritakan bahwa karena rasa takutnya untuk berperang mnjalankan dharmanya sebagai seorang ksatria, Arjuna menyampaikan berbagai macam alasan yang berujung pada kehendaknya untuk pergi meninggalkan peperangan. Sri Krishna yang memahami bahwa sikap Arjuna ini bersumber dari ketakutan yang muncul di dalam dirinya berusaha mengingatkan dan menegaskan kepada Arjuna seperti yangdapat kita baca pada sloka-sloka Bhagawadgita berikut ini:
- Arjuna yang baik hati, bagaimana sampai hal-hal yang kotor ini menghinggapi dirimu? Hal-hal ini sama sekali tidak pantas bagi orang yang mengetahui nilai hidup. Hal-hal seperti itu tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi, melainkan menjerumuskan dirinya ke dalam penghinaan. (Bhagawadgita Sloka 2.2)
- Wahai putera Prtha, jangan menyerah kepada kelemahan yang hina ini, itu tidak patas bagimu. Tinggalkanlah kelemahan hati yang remeh itu dan bangunlah wahai yang menghukum musuh. (Bhagawadgita sloka 2.3)
- Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal. (Bhagawadgita sloka 2.11)
Ketakutan ini memiliki beragam bentuk dan warna pada masing-masing individu. Sesungguhnya masalah yang dialami oleh Arjuna juga kita alami. Masalah-masalah tersebut bermuara pada hal yang sama, yaitu ketakutan. Karenanya mari kita belajar untuk memahaminya dan kemudianberusaha untuk mengatasi ketakutan dalam diri kita.
Kembali dalam hal menghargai budaya bangsa, kita sebagai generasi muda Hindu hendaknya memiliki kesadaran untuk melestarikan nilai-nilai luhur dari budaya kita. Jadikanlah Ajaran Agama sebagai bekal bagi kita untuk mengarungi kehidupan ini dalam mencari kebenaran yang sejati. Ilmu pengetahuan bukanlah merupakan hal yang bertentangan dengan ajaran hindu. Bahkan banyak sekali kebenaran-kebenaran dalam Weda yang dapat diungkap dengan bantuan Ilmu Pengetahuan (Pengertian “diungkap” disini adalah dapat dibuktikankebenarannya secara ilmiah) sehingga kita
bisa menggunakan logika dalam mempelajari Hindu. Namun janganlah kita melupakan untuk mengembangkan rasa kita (cinta kasih dalam diri ini). Atau dengan kata lain, jangan hanya otak kiri kita saja yang kita latih dan melupakan untuk ikut melatih otak kanan kita. Cobalah untuk memahami ajaran Hindu tidak hanya sebatas konsep atau teori saja, melainkan jugaberusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan ini sehingga rasa kita juga akan berkembang. Adakalanya kebenaran hanya dapat dirasakan dan tidak dapat dijelaskan dengan logika. Karena penjelasan
dengan logika membutuhkan konsep, membutuhkan kata-kata yang berasal dari pikiran. Sedangkan kebenaran sejati (baca: moksha) menurut orang-orang suci, melampaui pikiran, ruang dan waktu sehinggatak dapat dipahami dengan pikiran, hanya dapat dirasakan. Sebagai contoh, jika seseorang bertanya kepada kita apa itu manis??? maka cara terbaik untuk menjelaskan kepada orang tersebut adalah dengan menyuruhnya untuk merasakan gula.
Thomas L. Friedman mengungkapkan dalam bukunya bahwa pada era ini (saat ini) — yang disebutnya sebagai era globalisasi 3 (tahap ke 3) – setiap individu memiliki kesempatan untuk berkolaborasi sekaligus bersaing secara global
dikarenakan pekembangan teknologi yang memudahkan kita untuk mengakses maupun memberikan informasi secara global. Dalam era ini seolah-olah dunia menjadi datar sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk
mengembangkan diri. Friedman juga mengungkapkan pentingnya “Glocalization attitude” dalam menyongsong era global ini. Dengan kata lain berpikirlah secara global dan bertindaklah secara lokal. Dengan cara ini kita dapat mengambil nilai-nilai positif dari era globalisasi dan menggunakannya untuk memajukan kebudayaan lokal/setempat. Dengan demikian era globalisasi janganlah kita sikapi sebagai sebuah era dimana segala sesuatu yang ketinggalan zaman harus kita tanggalkan, melainkan suatu era dimana kita dapat memajukan nilai-nilai lokal (budaya lokal) yang luhur
dengan memanfaatkan globalisasi.
Kebanyakan dari kita (generasi muda) telah terbawa oleh arus globalisasi ini dan mulai meninggalkan budaya lokal setempat yang sebenarnya masih relevan dan mempunyai nilai-nilai yang sangat luhur. Hal ini dikarenakan kita tidak menciptakan filter/penyaring yang berupa kesadaran di dalam diri kita. Sehingga dengan mudahnya budaya dari luar masuk dan memabukkan kita. Dalam pemahaman saya hal inilah yang saya sebut sebagai krisis budaya, dimana kita sudah mulai tidak menghargai budaya bangsa kita sendiri dan membesarkan budaya dari luar yang belum tentu
cocok bagi bangsa ini. Sehingga pada akhirnya, perlahan-lahan kita mulai kehilangan identitas/jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar.
Marilah kita sebagai generasi muda hindu mempelajari kembali budaya kita, marilah kita gunakan ajaran-ajaran hindu dalam menciptakan filter berupa kesadaran di dalam diri kita. Kita tidak bisa menolak era globalisasi karena hal tersebut
merupakan sebuah keniscayaan, yang dapat kita lakukan adalah mengembangkan kesadaran di dalam diri kita. Sebaik dan secanggih apapun aturan dan hukum yang kita buat tidak dapat membuat kita jera. Yang dapat membuat kita jera adalah munculnya kesadaran dalam diri kita masing-masing. Karena segala kekacauan bersumber dari dalam diri kita sendiri terutama dari pikiran. Bagaimana mungkin kita dapat mengekang pikiran jika tidak dengan memunculkan kesadaran dalam diri ini. Jadi menurut saya sudahlah tepat jika dalam sampul Bhagawadgita digambarkan
kereta kuda dengan arjuna dan Krishna sebagai saisnya yang menandakan pentingnya bagi kita untuk dapat menguasai/mengendalikan pikiran kita dalam rangka menemukan kebenaran yang sejati.
(sanbudinatha, 29 februari 2008)
Jumat, 06 Maret 2015
SEJARAH OGOH -OGOH
Ogoh-ogoh merupakan budaya baru di Pemenang KLU. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual Nyepi.
Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Hindu khususnya di Desa Pemenang Lombok Utara , melaksanakan tradisi pengrupukan. Tradisi ini semacam prosesi mengembalikan bhuta kala ke asalnya. Menurut kepercayaan, mereka dibangunkan dengan alat-alat, umumnya obor; api , bunyi-bunyian kentongan yang dibawa mengelilingi seisi rumah. Sementara itu, berwujud ogoh-ogoh, sang “bhuta kala” lalu diarak menuju , perempatan.
Pawai ogoh-ogoh hampir selalu diadakan tiap kali menyambut hari raya Nyepi. Rupa mereka direka sedemikian rupa dengan variasi bentuk menyeramkan. Ada yang berwujud raksasa, perjelmaan dewa-dewi dalam murti-nya, mengambil tokoh dari cerita pewayangan atau memakai figur-figur yang sedang populer. Mereka dirakit memadukan estetika seni yang memikat secara visual.
Hampir setiap tahun, keberadaan ogoh-ogoh bak penggenap wajib dalam tradisi menyambut Nyepi. Pawai semarak selalu menjadi atraksi yang dinanti. Kebanyakan orang pasti bertanya perihal cikal bakal ogoh-ogoh dalam tradisi menyambut Nyepi.
Ogoh-ogoh merupakan budaya baru di Pemenang KLU. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual Nyepi. Ada budaya-budaya yang mengalami proses tersakralisasi dan itu sah-sah saja. Eksistensi tradisi dalam pelaksanaan ritual umat Hindu di Pemenang KLU saling melengkapi, sudah baur menjadi kesatuan.
Seiring waktu banyak yang mengkaji keberadaan ogoh-ogoh baik dari tafsir agama, seni dan budaya. “Setelah dikaji dan dikaitkan dengan konsep agama, ogoh-ogoh lebih mengarah ke bentuk tradisi,”
Ogoh-ogoh merunut jejaknya, kemunculannya lebih kepada suatu bentuk simbolisasi. Menyimbolkan energi-energi negatif sang bhuta kala, dengan perwujudan menyeramkan untuk dipralina, dilebur dengan air maupun api. “Umpamanya, kalau mau mengusir yang jahat pakailah perwujudan yang serem juga,” candanya. Logika ini ia namai dengan konsep kaca rasa, yang memberikan suatu cerminan atas sesuatu yang terlihat.
Sebagai suatu bentuk karya seni, ia juga tak bisa dilepaskan dari unsur Satyam, Siwam dan Sundaram, jelasnya. Konsep penciptaan dalam masyarakat Hindu sangat terkait dengan unsur Kebenaran (satyam), kebaikan/kesucian (siwam) dan keindahan
DESAINER OGOH - OGOH
Kamis, 05 Maret 2015
Kebersamaan dalam Ogoh-ogoh STT Pure Dese Pemenang dalam rangka menyambut Hari raya Nyepi Tahun Caka 1937@gps2015
Perakitan Ogoh - ogoh oleh STT
Menyelamatkan Ogoh -ogoh dari terjangan angin.
Angin Kencang ..santong Elung babar angin ....sabar?
Ini Mr.Oming lagi ngeluarin Jurus .... Lawan Angin.
Situasi Aman ..... sementara
Jurus Angin di keluarkan Lagi ...Mr.Oming
Situasi terakhir akibat terjangan Angin
Lagi Menikmati ala kadarnya ...mau ikut makan Ogoh2
Semogga Diberkahi ......?
Kebus ..........!!!!!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)















































































































