Masa muda adalah masa-masa untuk menuntut ilmu. Dalam ajaran agama Hindu dikenal empat tahapan yang harus dilalui dalam kehidupan ini, yaitu catur asrama. Salah satunya adalah tahapan dimana kita menuntut ilmu dalam rangka
mencari kebenaran/dharma (Brahmacari). Kebanyakan dari kita yang merupakan generasi muda masih berada dalam tahapan ini. Jika pada zaman lampau, seorang anak pada usia tertentumeninggalkan keluarganya untuk menuntut ilmu di bawah bimbingan seorang brahmana, maka pada zaman sekarang ini seorang anak meninggalkan keluarganya dalam rangka menuntut ilmu di bawah bimbingan sebuah institusi yang kita sebut Universitas/Perguruan tinggi. Nilai/esensi yang terkandung di dalamnya masih sama dan relevan hingga zaman ini, hanya saja cara dan medianya yang berubah.
Adalah suatu keniscayaan bahwa kelak generasi mudalah yang nantinya akan menerima tongkat estafet dari generasisebelumnya dalam rangka menjamin kelangsungan pelaksanaan dharma dalam kehidupan ini. Baik dalam ruang lingkup keluarga, dimana generasi muda merupakan suputra yang diharapkan akan menjamin eksistensi keluarganya dalam kehidupan ini. Begitupun dalam ruang lingkup yang lebih besar lagi yaitu dalam suatu Negara, dimana generasi mudanya diharapkan untuk dapat meneruskan nilai-nilai luhur bangsanya (budaya) agar tetap eksis dalam rangka menunjang kehidupan berbangsa dan bernegara yang berlandaskan dharma.
Hendaknya kita sebagai generasi muda menyadari peran ini sehingga negeri yang kita cintai ini dapat melewati masa-masa sulit dan akan kembali menjadi sebuah bangsa yang besar dan dihargai oleh bangsa-bangsa lainnya. Seorang bijak pernah mengatakan bahwasanya sebuah bangsa yang besar adalah bangsa dimana generasi mudanya mampu untuk menghargai budaya bangsanya. Saya rasa kata-kata mutiara tersebut masihlah sangat relevan bagi bangsa ini untuk dapat mengatasi permasalahan bangsa yang sedang dihadapi hingga saat ini.
Hal yang sama pernah disampaikan olehSwami Wiwekananda sebagai berikut “Punyailah keyakinan bahwa kalian semuanya dilahirkan untuk berbuat hal-hal yang besar. Hai anak-anak muda janganlah karena mendengar suara anak-anak anjjing menyalak kalian menjadi takut, tidak, tidak boleh menjadi penakut sekalipun mendengar dentuman guntur di atas langit, tetaplah berdiri tegak dan berusaha terus. Negaramu meminta pahlawan-pahlawan sejati. Jadilah pahlawan-pahlawan nan gagah perkasa. Berdiri teguh laksana batu karang yang kokoh. Kebenaran selalu menang.
Apa yang negara India butuhkan adalah tenaga listrik untuk menggerakkan semangat yang segar di dalam urat-urat saluran darah nasional.”.
Vivekananda mencoba memberitahukan kepada kita untuk dapat mengatasi rasa takut. Karena rasa takut merupakan sumber dari sebagian besar kekacauan yang terjadi baik di dalam diri maupun di luar diri. Hal yang sama juga disampaikan melalui Bhagawadgita. Dalam Bhagawadgita diceritakan bahwa karena rasa takutnya untuk berperang mnjalankan dharmanya sebagai seorang ksatria, Arjuna menyampaikan berbagai macam alasan yang berujung pada kehendaknya untuk pergi meninggalkan peperangan. Sri Krishna yang memahami bahwa sikap Arjuna ini bersumber dari ketakutan yang muncul di dalam dirinya berusaha mengingatkan dan menegaskan kepada Arjuna seperti yangdapat kita baca pada sloka-sloka Bhagawadgita berikut ini:
- Arjuna yang baik hati, bagaimana sampai hal-hal yang kotor ini menghinggapi dirimu? Hal-hal ini sama sekali tidak pantas bagi orang yang mengetahui nilai hidup. Hal-hal seperti itu tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi, melainkan menjerumuskan dirinya ke dalam penghinaan. (Bhagawadgita Sloka 2.2)
- Wahai putera Prtha, jangan menyerah kepada kelemahan yang hina ini, itu tidak patas bagimu. Tinggalkanlah kelemahan hati yang remeh itu dan bangunlah wahai yang menghukum musuh. (Bhagawadgita sloka 2.3)
- Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal. (Bhagawadgita sloka 2.11)
Ketakutan ini memiliki beragam bentuk dan warna pada masing-masing individu. Sesungguhnya masalah yang dialami oleh Arjuna juga kita alami. Masalah-masalah tersebut bermuara pada hal yang sama, yaitu ketakutan. Karenanya mari kita belajar untuk memahaminya dan kemudianberusaha untuk mengatasi ketakutan dalam diri kita.
Kembali dalam hal menghargai budaya bangsa, kita sebagai generasi muda Hindu hendaknya memiliki kesadaran untuk melestarikan nilai-nilai luhur dari budaya kita. Jadikanlah Ajaran Agama sebagai bekal bagi kita untuk mengarungi kehidupan ini dalam mencari kebenaran yang sejati. Ilmu pengetahuan bukanlah merupakan hal yang bertentangan dengan ajaran hindu. Bahkan banyak sekali kebenaran-kebenaran dalam Weda yang dapat diungkap dengan bantuan Ilmu Pengetahuan (Pengertian “diungkap” disini adalah dapat dibuktikankebenarannya secara ilmiah) sehingga kita
bisa menggunakan logika dalam mempelajari Hindu. Namun janganlah kita melupakan untuk mengembangkan rasa kita (cinta kasih dalam diri ini). Atau dengan kata lain, jangan hanya otak kiri kita saja yang kita latih dan melupakan untuk ikut melatih otak kanan kita. Cobalah untuk memahami ajaran Hindu tidak hanya sebatas konsep atau teori saja, melainkan jugaberusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan ini sehingga rasa kita juga akan berkembang. Adakalanya kebenaran hanya dapat dirasakan dan tidak dapat dijelaskan dengan logika. Karena penjelasan
dengan logika membutuhkan konsep, membutuhkan kata-kata yang berasal dari pikiran. Sedangkan kebenaran sejati (baca: moksha) menurut orang-orang suci, melampaui pikiran, ruang dan waktu sehinggatak dapat dipahami dengan pikiran, hanya dapat dirasakan. Sebagai contoh, jika seseorang bertanya kepada kita apa itu manis??? maka cara terbaik untuk menjelaskan kepada orang tersebut adalah dengan menyuruhnya untuk merasakan gula.
Thomas L. Friedman mengungkapkan dalam bukunya bahwa pada era ini (saat ini) — yang disebutnya sebagai era globalisasi 3 (tahap ke 3) – setiap individu memiliki kesempatan untuk berkolaborasi sekaligus bersaing secara global
dikarenakan pekembangan teknologi yang memudahkan kita untuk mengakses maupun memberikan informasi secara global. Dalam era ini seolah-olah dunia menjadi datar sehingga setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk
mengembangkan diri. Friedman juga mengungkapkan pentingnya “Glocalization attitude” dalam menyongsong era global ini. Dengan kata lain berpikirlah secara global dan bertindaklah secara lokal. Dengan cara ini kita dapat mengambil nilai-nilai positif dari era globalisasi dan menggunakannya untuk memajukan kebudayaan lokal/setempat. Dengan demikian era globalisasi janganlah kita sikapi sebagai sebuah era dimana segala sesuatu yang ketinggalan zaman harus kita tanggalkan, melainkan suatu era dimana kita dapat memajukan nilai-nilai lokal (budaya lokal) yang luhur
dengan memanfaatkan globalisasi.
Kebanyakan dari kita (generasi muda) telah terbawa oleh arus globalisasi ini dan mulai meninggalkan budaya lokal setempat yang sebenarnya masih relevan dan mempunyai nilai-nilai yang sangat luhur. Hal ini dikarenakan kita tidak menciptakan filter/penyaring yang berupa kesadaran di dalam diri kita. Sehingga dengan mudahnya budaya dari luar masuk dan memabukkan kita. Dalam pemahaman saya hal inilah yang saya sebut sebagai krisis budaya, dimana kita sudah mulai tidak menghargai budaya bangsa kita sendiri dan membesarkan budaya dari luar yang belum tentu
cocok bagi bangsa ini. Sehingga pada akhirnya, perlahan-lahan kita mulai kehilangan identitas/jati diri kita sebagai sebuah bangsa yang besar.
Marilah kita sebagai generasi muda hindu mempelajari kembali budaya kita, marilah kita gunakan ajaran-ajaran hindu dalam menciptakan filter berupa kesadaran di dalam diri kita. Kita tidak bisa menolak era globalisasi karena hal tersebut
merupakan sebuah keniscayaan, yang dapat kita lakukan adalah mengembangkan kesadaran di dalam diri kita. Sebaik dan secanggih apapun aturan dan hukum yang kita buat tidak dapat membuat kita jera. Yang dapat membuat kita jera adalah munculnya kesadaran dalam diri kita masing-masing. Karena segala kekacauan bersumber dari dalam diri kita sendiri terutama dari pikiran. Bagaimana mungkin kita dapat mengekang pikiran jika tidak dengan memunculkan kesadaran dalam diri ini. Jadi menurut saya sudahlah tepat jika dalam sampul Bhagawadgita digambarkan
kereta kuda dengan arjuna dan Krishna sebagai saisnya yang menandakan pentingnya bagi kita untuk dapat menguasai/mengendalikan pikiran kita dalam rangka menemukan kebenaran yang sejati.
(sanbudinatha, 29 februari 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar