STT PEMENANG

@ SELAMAT BERKUNJUNG DIBLOG SEKEHE TERUNE - TERUNI PURA DESE PEMENANG LOMBOK UTARA @ SELAMAT MENYAMBUT HARI RAYA GALUNGAN,KUNINGAN 2016 DAN HARI RAYA NYEPI TAHUN CAKA 1938 @ DALAM MENYAME BERAYE KITA TINGKAT SOLIDARITAS ATAR UMAT BERAGAMA

Jumat, 06 Maret 2015

SEJARAH OGOH -OGOH


Ogoh-ogoh merupakan budaya baru di Pemenang KLU. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual Nyepi.
Sehari sebelum Nyepi, masyarakat Hindu khususnya di Desa Pemenang Lombok Utara , melaksanakan tradisi pengrupukan. Tradisi ini semacam prosesi mengembalikan bhuta kala ke asalnya. Menurut kepercayaan, mereka dibangunkan dengan alat-alat, umumnya obor; api , bunyi-bunyian kentongan yang dibawa mengelilingi seisi rumah. Sementara itu, berwujud ogoh-ogoh, sang “bhuta kala” lalu diarak menuju , perempatan.
Pawai ogoh-ogoh hampir selalu diadakan tiap kali menyambut hari raya Nyepi. Rupa mereka direka sedemikian rupa dengan variasi bentuk menyeramkan. Ada yang berwujud raksasa, perjelmaan dewa-dewi dalam murti-nya, mengambil tokoh dari cerita pewayangan atau memakai figur-figur yang sedang populer. Mereka dirakit memadukan estetika seni yang memikat secara visual.
Hampir setiap tahun, keberadaan ogoh-ogoh bak penggenap wajib dalam tradisi menyambut Nyepi. Pawai semarak selalu menjadi atraksi yang dinanti. Kebanyakan orang pasti bertanya perihal cikal bakal ogoh-ogoh dalam tradisi menyambut Nyepi. 
Ogoh-ogoh merupakan budaya baru di Pemenang KLU. Kehadirannya menjadi salah satu pelengkap ritual Nyepi. Ada budaya-budaya yang mengalami proses tersakralisasi dan itu sah-sah saja. Eksistensi tradisi dalam pelaksanaan ritual umat Hindu di Pemenang KLU saling melengkapi, sudah baur menjadi kesatuan.
Seiring waktu banyak yang mengkaji keberadaan ogoh-ogoh baik dari tafsir agama, seni dan budaya. “Setelah dikaji dan dikaitkan dengan konsep agama, ogoh-ogoh lebih mengarah ke bentuk tradisi,” 
Ogoh-ogoh merunut jejaknya, kemunculannya lebih kepada suatu bentuk simbolisasi. Menyimbolkan energi-energi negatif sang bhuta kala, dengan perwujudan menyeramkan untuk dipralina, dilebur dengan air maupun api. “Umpamanya, kalau mau mengusir yang jahat pakailah perwujudan yang serem juga,” candanya. Logika ini ia namai dengan konsep kaca rasa, yang memberikan suatu cerminan atas sesuatu yang terlihat.
Sebagai suatu bentuk karya seni, ia juga tak bisa dilepaskan dari unsur Satyam, Siwam dan Sundaram, jelasnya. Konsep penciptaan dalam masyarakat Hindu sangat terkait dengan unsur Kebenaran (satyam), kebaikan/kesucian (siwam) dan keindahan 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar