Sepengetahuan saya, perayaan hari raya Nyepi merupakan local
genus (kearifan local) khususnya bagi umat Hindu di Indonesia. Mungkin saja di
Negeri lain dapat kita temukan perayaan dengan esensi yang serupa, namun dengan
tata cara yang berbeda. Karenanya sebagai umat Hindu kita patut merasa bangga
karena kita umat Hindu telah mengambil bagian dalam upaya menjaga dan
melestarikan nilai-nilai luhur yang telah ada di negeri ini sejak dahulu. Umat
Hindu di negeri ini tidak melakukan adopsi secara mentah budaya-budaya dari
luar seperti yang saat ini terjadi di negeri ini, Klo boleh saya katakan, “We
Love our own culture”, sadar atau tidak sadar kita telah melakukannya.
Mengapa saya
memahami bahwa perayaan Nyepi merupakan warisan bagi negeri ini yang mengandung
nilai-nilai luhur. Hal ini tercermin dari Catur Brata penyepian yang senantiasa
menjadi pedoman/penuntun bagi umat Hindu dalam melaksanakan prosesi Nyepi.
Catur brata penyepian meliputi 4 hal, yaitu 1) Tidak menyalakan api, 2) Tidak
melakukan karya, 3) Tidak ke luar rumah, 4) Tidak
bersenang-senang/berfoya-foya.
Pada saat Nyepi,
keadaan menjadi sepi, sunyi, hening. Dalam hal semantic, hal ini memiliki
kesesuaian dengan Nyepi itu sendiri yang berarti sepi. Nyepi berarti sepi,
sunyi, hening, menyepi, membuat jadi sepi, hening. Lalu apakah yang dibuat
menjadi sepi atau hening tersebut???? Pada saat Nyepi, makrokosmos (alam) dan
mikrokosmos (person) dibuat menjadi sepi. Di sini terlihat adanya kesinambungan
antara alam dan diri kita masing-masing. Dengan keheningan tersebut kita
sebagai pribadi terbantu untuk melakukan introspeksi (pensucian diri).
Begitupun dengan alam yang akan terbantu dengan adanya kesempatan untuk melakukan
pemulihan atas segala beban yang harus disangga selama setahun penuh akibat
aktivitas manusia. Ini adalah bentuk nyata kepedulian umat Hindu terhadap
lingkungan. Jika sekarang dunia sedang konsen untuk mengatasi permasalahan
lingkungan, maka sejak dulu leluhur kita telah menerapkan nilai-nilai penting
dalam pelestarian lingkungan. “We must proud of that” .
Marilah kita kembali
dalam pokok pembahasan. Salah satu bagian dari pelaksanaan Nyepi adalah
pelaksanaan Catur Brata penyepian. Berikut akan saya sampaikan pemahaman saya
mengenai bagian-bagian dari catur brata penyepian tersebut.
TIDAK MENYALAKAN API
Api yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkaitan
dengan api, semisal api itu sendiri, listrik, cahaya, dan lain-lain. Saya
sependapat dengan hal tersebut. Juga dalam kesempatan kali ini saya ingin
memaknai api sebagai salah satu unsur alam. Api memiliki sifat ekspansif. Jika
kita pernah menonton film avatar maka di film itu dapat kita lihat bahwa bangsa
api merupakan bangsa yang ekspansionis.hahahaha…..,dalam contoh nyata dapat
kita lihat bila api dibiarkan menyala maka dia akan membakar benda-benda di
sekelilingnya dan akan semakin membesar hingga semakin sulit untuk
dikendalikan. Begitulah sifat api, jika kecil dia adalah sahabat namun jika
kita tidak pintar-pintar mengendalikan maka akan merugikan diri kita sendiri.
Demikian pula halnya dalam tataran spiritual, api dalam diri pun harus kita
kendalikan. Saya rasa hal ini juga merupakan sisi lain dari amati gni itu
sendiri, yaitu berusaha untuk mengendalikan api dalam diri.
TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN
(KARYA)
Saya cenderung memahami ‘amati karya’ sebagai suatu ajakan bagi
kita untuk tidak melakukan pekerjaan atau karya yang terkait dengan pekerjaan
material (untuk mendapatkan materi). Lalu pekerjaan seperti apa yang dapat kita
lakukan??karena pada dasarnya kita tidak pernah berhenti bekerja kecuali
meninggal. Bahkan dalam tidur pun jantung kita bekerja, dan sesungguhnya bumi
ini selalu berputar, alam selalu berekspansi (berkembang). Lalu dapatkah kita
berhenti melakukan pekerjaan??Jika memang tidak, pekerjaan seperti apakah yang
harus kita tinggalkan pada hari Nyepi ini?? Pada saat nyepi kita sejenak
menghentikan kegiatan/pekerjaan dalam sangkut pautnya dengan alam material.
Pesan utama Nyepi adalah perenungan suci/introspeksi diri, jadi layaknya orang
yang sedang menggali, pada saat Nyepi kita tinggalkan segala pekerjaan di
luaran diri dan mulai memasuki diri kita sendiri. Segala daya dan upaya kita
arahkan untuk penggalian diri.
TIDAK BEPERGIAN KE LUAR RUMAH
Tidak bepergian ke
luar rumah di sini berarti tidak melihat ke luar diri, sekali lagi kita diajak
untuk melihat ke dalam diri (introspeksi ke dalam diri). Mungkin saja dalam
setahun ini kita terlalu sibuk untuk melakukan pencarian terhadap segala
sesuatu yang ada di luaran sana, padahal sesungguhnya apa yang kita cari sudah
ada dalam diri kita, menunggu untuk ditemukan.
TIDAK BERFOYA-FOYA
Maksud dari tidak
berfoya-foya di sini adalah tidak melakukan kegiatan yang berlebihan dan tidak
perlu. Atau dapat juga diartikan dengan menahan diri. Menahan diri beragam
bentuknya. Adakalanya dalam suatu perdebatan kita mampu untuk mendebat lawan
bicara kita, tapi kita memilih diam dan menyimak perkataan orang tersebut, ini
adalah pengendalian diri. Adakalanya kita disakiti dan sebenarnya mampu untuk
membalas namun kita memilih untuk diam dan memaafkan, inilah pengendalian diri.
Adakalanya kita mampu untuk makan sebanyak-banyaknya namun kita memilih untuk
makan secukupnya, ini juga pengendalian diri. Bagi seseorang yang
banyak berbicara ada baiknya untuk menahan diri untuk tidak
berbicara berlebihan (berbicara seperlunya saja), bagi orang yang
suka makan berlebihan, ada baiknya untuk belajar makan
seperlunya saja, dan lain sebagainya.
Dapatkah kita
membayangkan bahwa di balik tradisi seperti Nyepi terkandung makna-makna yang
begitu luhur dan masih relevan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan
baik untuk pribadi dan bangsa ini secara keseluruhan, jika kita dengan
sungguh-sungguh menjalankannya. Melalui perayaanNyepi kita
diingatkan/disadarkan dan diharapkan untuk mengaplikasikan esensi-esensi luhur
ini dalam kehidupan kita sehari-hari.
Nyepi mengandung
makna pengendalian terhadap nafsu, mengasingkan diri dari keramaian dan meniti
jalan ke dalam diri untuk menemukan sumber pelita di dalam diri kita
masing-masing dan pada akhirnya kita akan kembali lagi dalam keramaian dan
hiruk-pikuknya dunia sebagai manusia yang baru, manusia dengan kesadaran baru.
Lain yang dipahami
lain pula yang dilakukan, memang demikianlah penyakit kita, termasuk juga
penyakit saya.
Karenanya Nyepi diperingati berulangkali setiap tahun untuk mengingatkan kita akan hal ini. Dengan harapan suatu saat,
melalui penyepian diri yang kita lakukan akan lahir manusia-manusia dengan kesadaran baru. Mungkin dalam Nyepi tahun ini kita belum berhasil dan demmikianpula dalam nyepi-nyepi di tahun berikutnya. Namun dengan niatan yang tulus mudah-mudahan kelak suatu saat kita semua dapat berhasil menjadikan Nyepi dengan catur brata penyepiannya sebagai momentum bagi kita untuk menemukan jati diri yang sejati dalam diri ini.
Karenanya Nyepi diperingati berulangkali setiap tahun untuk mengingatkan kita akan hal ini. Dengan harapan suatu saat,
melalui penyepian diri yang kita lakukan akan lahir manusia-manusia dengan kesadaran baru. Mungkin dalam Nyepi tahun ini kita belum berhasil dan demmikianpula dalam nyepi-nyepi di tahun berikutnya. Namun dengan niatan yang tulus mudah-mudahan kelak suatu saat kita semua dapat berhasil menjadikan Nyepi dengan catur brata penyepiannya sebagai momentum bagi kita untuk menemukan jati diri yang sejati dalam diri ini.
Bagi saya merayakan
Nyepi bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus, seperti yang saya jelaskan
sebelumnya. Apa artinya menahan lapar dan haus lalu padakeesokan harinya dan
hari-hari berikutnya kita kembali pada kebiasaan kita. Apa artinya membuat
keadaan menjadi sangat hening bagi orang luar yang melihat, namun sesungguhnya
di dalam diri kita masih penuh dengan keramaian. Apakah semua itu tidak
berarti????
Ada seseorang yang
mengukurkeberhasilan pelaksanaan Nyepi dengan keberhasilannya melakukan puasa
menahan lapar
dan haus selama 24 jam penuh, namun bagi saya bukan hal itu yang menjadi ukuran. Ada juga orang yang mengukur keberhasilan pelaksanaan Nyepi dengan menjaga keheningan dan membuat keadaan menjadi sepi selama 24 jam, namun bagi saya bukan hal itu ukurannya. Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak berguna, namun saya mencoba untuk mengatakan bahwa hal-hal tersebut bukanlah hal yang dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pelaksanaanNyepi.Lalu apa ukuran yang dapat dijadikan sebagai indicator berhasil tidaknya pelaksanaan Nyepi. Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Yang saya rasakan setiap tahun ukuran keberhasilan itu akan berubah. Dulu ukuran keberhasilan kita adalah menahanlapar dan haus, namun hal itu bukanlah yang utama sekarang. Itu semua kembali kepada masing-masing individu, karena hanya dirikitalah yang mengetahui sejauh mana pencapaian kita dalam melakukan pencarian jati diri ini.
dan haus selama 24 jam penuh, namun bagi saya bukan hal itu yang menjadi ukuran. Ada juga orang yang mengukur keberhasilan pelaksanaan Nyepi dengan menjaga keheningan dan membuat keadaan menjadi sepi selama 24 jam, namun bagi saya bukan hal itu ukurannya. Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak berguna, namun saya mencoba untuk mengatakan bahwa hal-hal tersebut bukanlah hal yang dapat dijadikan sebagai ukuran keberhasilan pelaksanaanNyepi.Lalu apa ukuran yang dapat dijadikan sebagai indicator berhasil tidaknya pelaksanaan Nyepi. Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing. Yang saya rasakan setiap tahun ukuran keberhasilan itu akan berubah. Dulu ukuran keberhasilan kita adalah menahanlapar dan haus, namun hal itu bukanlah yang utama sekarang. Itu semua kembali kepada masing-masing individu, karena hanya dirikitalah yang mengetahui sejauh mana pencapaian kita dalam melakukan pencarian jati diri ini.
Nyepi adalah momen
untuk mengingatkan kepada kita untuk menemukan kebenaran. Sumber pelita dalam
kegelapan yang tidak akan dapat dipadamkan dengan apapun. Dan Nyepi memberikan
jalannya kepada kita untuk dapat menemukan sumber pelita tersebut, yaitu dengan
memulai perjalanan ke dalam diri, bukan ke luar. Kita akan menghabiskan terlalu
banyak energi untuk hal yang sia-sia jika disibukkan dalam pencarian Tuhan di
luar diri. Yang
pertama, kita tidak perlu mencari Tuhan, karena sebenarnya Tuhan itu berada di mana-mana. Laluuntuk apa kita sibuk mencari-carinya. Yang terjadi adalah kitatidak menyadari keberadaannya. Yang kedua, atman yang merupakan percikan sinar suci Tuhan telah berada dalam masing-masing diri setiap insane. Selama ini kita lupa untuk berkenalan dengannya, untuk menyadari eksistensinya. Kita terlalu sibuk ke luar tanpa menyadari sesungguhnya Dia berada dekat sekali dengankita. Demikianlah yang saya pahami saat ini. Namun saya pun masih dalam perjalanan yang sama dengan kebanyakan orang. Sayabelum dapat menemukan sang pelita yang sejati itu, tapi saya berharap mudah-mudahan kelak saya dan kitamasing-masing dapat menemukannya. Dengan Nyepi kita menyadarinya dan menguatkan niat, kemudian yang ada setelah ini adalah berjalanlah sesuai dengan niatan itu, berjalanlah sesuai dengan apa yang kita pahami. Semoga kita semua senantiasa beradadalam keadaan damai atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, begitulah saya menyebutnya.
pertama, kita tidak perlu mencari Tuhan, karena sebenarnya Tuhan itu berada di mana-mana. Laluuntuk apa kita sibuk mencari-carinya. Yang terjadi adalah kitatidak menyadari keberadaannya. Yang kedua, atman yang merupakan percikan sinar suci Tuhan telah berada dalam masing-masing diri setiap insane. Selama ini kita lupa untuk berkenalan dengannya, untuk menyadari eksistensinya. Kita terlalu sibuk ke luar tanpa menyadari sesungguhnya Dia berada dekat sekali dengankita. Demikianlah yang saya pahami saat ini. Namun saya pun masih dalam perjalanan yang sama dengan kebanyakan orang. Sayabelum dapat menemukan sang pelita yang sejati itu, tapi saya berharap mudah-mudahan kelak saya dan kitamasing-masing dapat menemukannya. Dengan Nyepi kita menyadarinya dan menguatkan niat, kemudian yang ada setelah ini adalah berjalanlah sesuai dengan niatan itu, berjalanlah sesuai dengan apa yang kita pahami. Semoga kita semua senantiasa beradadalam keadaan damai atas karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa, begitulah saya menyebutnya.
(sanbudinatha,
21 maret 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar